Wednesday, April 17, 2013

HISAB PADA HARI PEMBALASAN

Hisab
Pada Hari Pembalasan

(Oleh: Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi)
 
Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk mencapai kesempurnaan iman terhadap hari Akhir, maka semestinya setiap muslim mengetahui peristiwa dan tahapan yang akan dilalui manusia pada hari tersebut. Di antaranya yaitu masalah hisab (perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir. Karena, pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah, beriman dengan hari kembalinya manusia kepada Allâh Ta'âla lalu dihisab. Sehingga hakikat iman kepada hari kebangkitan adalah iman kepada hisab ini.[1]

PENGERTIAN HISAB

Pengertian hisab disini adalah, peristiwa Allâh Ta'âla menampakkan kepada manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya.[2] Atau Allâh Ta'âla mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan.[3]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allâh Ta'âla akan menghisab seluruh makhluk dan berdua dengan seorang mukmin, lalu menetapkan dosa-dosanya.[4] Syaikh Shalih Ali Syaikh mengomentari pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al muhasabah (proses hisab).[5] Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan, muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari Kiamat.[6]
Hisab menurut istilah aqidah memiliki dua pengertian.
 
Pertama. Al ‘Aradh (penampakkan dosa dan pengakuan), yang mempunyai dua pengertian.
  1. Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allâh Ta'âla dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang di-munaqasyah hisabnya (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan yang tidak dihisab.
  2. Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allâh Ta'âla atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir). [7]
Kedua. Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh), dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan.[8] Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya.[9]
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya:
مَنْ حُوسـِـبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَـيْسَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَـى
فَسـَـــوْفَ يُـحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيْرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّـمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ
وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْـحِسَابَ يَهْلِكْ
“Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”.
Aisyah bertanya,”Bukankah Allâh telah berfirman
‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’[10]
Maka Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu adalah al ‘aradh.
Namun barangsiapa yang di-munaqasyah hisabnya, maka ia akan binasa”.
(Muttafaqun ‘alaihi)

HISAB PASTI ADA

Kepastian adanya hisab ini telah dijelaskan di dalam al Qur‘an dan Sunnah. Firman Allâh Ta'âla :
(QS al Insyiqaq / 84 : 7-8)
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,
maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.
(QS al Insyiqaq / 84 : 7-8)
 
(QS al Insyiqaq / 84:10-12)
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang,
maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.
Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
(QS al Insyiqaq / 84:10-12)
 
(QS al Ghasyiyah / 88 : 25-26)
Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,
kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.
(QS al Ghasyiyah / 88 : 25-26)
 
(QS al Mu’min / 40 : 17)
Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.
Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.
Sesungguhnya Allâh amat cepat hisabnya.
(QS al Mu’min / 40 : 17)
 
Sedangkan dalil dari Sunnah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam, di antaranya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah, dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam, beliau berkata:
لـَــيْسَ أَحَدٌ يُـحَاسَبُ إِلاَّ هَلَكَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَيْسَ اللهُ يَقُولُ حِســـَــابًا يَســـِـــيْرًا
قَالَ ذَاكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْـحِسَابَ هَلَكَ
“Tidak ada seorangpun yang dihisab kecuali binasa,”
Aku (Aisyah) bertanya,
”Wahai Rasulullah, bukankah Allâh berfirman ‘pemeriksaan yang mudah’?”
Beliau menjawab,
”Itu adalah al aradh, namun barangsiapa yang diperiksa hisabnya, maka binasa”.
 
Imam Ibnu Abil Izz (wafat tahun 792 H) menjelaskan, makna hadits ini adalah, seandainya Allâh Ta'âla memeriksa dengan menghitung amal kebajikan dan keburukan dalam hisab hambaNya, tentulah akan mengadzab mereka dalam keadaan tidak menzhalimi mereka sedikit pun, namun Allâh Ta'âla memaafkan dan mengampuninya.[11]
Demikian juga umat Islam, sepakat atas hal ini.[12] Sehingga apabila seseorang mengingkari hisab, maka ia telah berbuat kufur, dan pelakunya sama dengan pengingkar hari Kebangkitan.[13]

HISAB MANUSIA DAN JIN
Syaikhul Islam menyatakan: “Allâh Ta'âla akan menghisab seluruh makhlukNya”[14]
Dari pernyataan ini, Syaikhul Islam menjelaskan, bahwa Allâh Ta'âla akan menghisab seluruh makhlukNya. Namun ini termasuk menampakkan keumuman dengan maksud untuk tertentu saja. Yaitu khusus yang Allâh Ta'âla bebani syariat. Karena pemberlakuan proses hisab itu pada amalan baik dan buruk hamba yang mukallaf. (Adapun) mukallaf itu mencakup manusia dan jin.[15] Begitu pula Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan, bahwa hisab ini juga mencakup jin, karena mereka mukallaf. Oleh karena itu, jin kafir masuk ke dalam neraka, sebagaimana disebutkan menurut nash syariat dan Ijma’. Firman Allâh Ta'âla menyebutkan :
(QS. al A’raaf/7:38)
Allâh Ta'âla berfirman:"Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka
bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu…
(QS. al A’raaf/7:38)
 
Yang mukmin masuk syurga, menurut mayoritas ulama dan ini yang benar sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allâh Ta'âla (yang artinya):
Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga.
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan.
Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir.
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan
yang berpasang-pasangan.
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra.
Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya,
tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka
(penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka)
dan tidak pula oleh jin.
(QS ar Rahman / 55 : 46 – 56).
 
Dikecualikan dalam hal ini, yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab maupun adzab. Begitu pula dengan hewan yang tidak memiliki pahala dan dosa. Adapun orang kafir, apakah dihisab ataukah tidak? Dalam permasalahan ini, para ulama berselisih pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa orang kafir tidak dihisab. Sedangkan sebagian lainnya menyatakan mereka dihisab. Syaikhul Islam mendudukkan permasalahan ini dengan pernyataan beliau rahimahullâh:
“Keterangan penentu (dalam masalah ini), hisab dapat dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan mereka, serta celaan terhadap mereka. Dapat (juga) dimaksudkan dengan pengertian perhitungan antara amal kebajikan dengan amal keburukan. Apabila yang diinginkan dengan hisab adalah pengertian pertama, maka jelas mereka dihisab. Namun bila dengan pengertian kedua, maka bila dimaksudkan bahwa orang kafir tetap memiliki kebajikan yang menjadikannya pantas masuk surga, maka (pendapat demikian) ini (merupakan) kekeliruan besar. Tetapi bila yang dimaksudkan mereka memiliki tingkatan-tingkatan dalam (menerima) adzab, maka orang yang banyak dosa kesalahannya, adzabnya lebih besar dari orang yang sedikit dosa kesalahannya, dan orang yang memiliki kebajikan, maka diringankan adzabnya, sebagaimana Abu Thalib lebih ringan adzabnya dari Abu Lahab.
Allâh Ta'âla berfirman:
QS an Nahl/16:88
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allâh,
Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan
disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.
(QS an Nahl / 16:88)
QS at Taubah / 9:37
Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambah kekafiran.
(QS at Taubah / 9:37)
Apabila adzab sebagian orang kafir lebih keras dari sebagian lainnya –karena banyaknya dosa dan sedikitnya amal kebaikan– maka hisab dilakukan untuk menjelaskan tingkatan adzab, bukan untuk masuk syurga.[16]
Dengan penjelasan Syaikhul Islam tersebut, maka hisab di atas, maksudnya adalah dalam pengertian menghitung, menulis dan memaparkan amalanamalan kepada mereka, bukan dalam pengertian penetapan kebaikan yang bermanfaat bagi mereka pada hari Kiamat untuk ditimbang melawan amalan keburukan mereka.[17]
Allâh Ta'âla berfirman :
QS al Kahfi / 18 : 105
Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka
dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia,
maka hapuslah amalan-amalan mereka,
dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.
(QS al Kahfi / 18 : 105)
AMALAN ORANG KAFIR DI DUNIA
Amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir di dunia terbagi menjadi dua. Pertama, yang disyaratkan padanya Islam dan niat. Amalan-amalan ini tidak diterima dan tidak bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Kedua, amalan yang tidak disyaratkan Islam padanya, seperti keluhuran budi pekerti, menunda penagihan hutang bagi yang tidak mampu membayar dan lain-lainnya. Amalan-amalan ini akan diberi balasannya di dunia.[18]
Syaikh Kholil Haras menyatakan: “Yang benar adalah, semua amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir hanya dibalas di dunia saja. Hingga bila datang hari Kiamat, ia akan mendapati lembaran kebaikannya kosong”.[19]
Demikian ini, karena Allâh berfirman:
QS al Furqaan / 25 : 23
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan,
lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
(QS al Furqaan / 25 : 23)
 
QS al Furqaan / 25 : 23
Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu
yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang.
Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun
dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).
Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.
(QS Ibrahim / 14 : 18)
 
Ada pendapat lain yang menyatakan amalan kebaikan mereka di dunia dapat meringankan adzab mereka. Menurut pendapat ini, amalan kebaikan yang tidak disyaratkan Islam padanya, pada hari Kiamat akan mendapat balasan untuk menutupi kezhalimannya terhadap orang lain. Apabila antara kezhalimannya seimbang dengan amalan tersebut, maka ia hanya diadzab disebabkan oleh kekufurannya saja. Namun, bila orang kafir ini tidak memiliki amal kebaikan di dunia, maka ditambahkan adzabnya yang disebabkan kekufurannya.[20]

CARA HISAB
Hisab ini dilakukan dalam satu waktu,[21] dan Allâh Ta'âla sendiri yang akan melakukannya, sebagaimana dijelaskan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau :
Hadits
Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya
tanpa ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya.
Lalu ia melihat ke sebelah kanan, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya;
dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya.
Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya.
 
Kemudian diberikan kitab yang telah ditulis malaikat agar dibaca dan diketahui oleh setiap orang. Firman Allâh Ta'âla menyebutkan :
QS al Kahfi / 18 : 49
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah
ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata:
“Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidakmeninggalkan yang kecil
dan tidak (pula) yang besar,melainkan ia mencatat semuanya?”
Dan merekamendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).
Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang juapun.
(QS al Kahfi / 18 : 49)
 
Allâh Ta'âla memang menulis semua amalan hambaNya, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firmanNya:
QS al Zalzalah / 99:7-8
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatanseberat dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS al Zalzalah / 99:7-8)
 
(QS al Mujaadilah / 58 : 6)
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allâh
semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa
yang telah mereka kerjakan. Allâh mengumpulkan
(mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka
telah melupakannya. Dan Allâh Maha Menyaksikan
segala sesuatu.
 
Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat mengingkarinya, karena bumi menceritakan semua amalan mereka. Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan yang telah ia lakukan. Dijelaskan dalam firman Allâh Ta'âla :
QS al Zalzalah / 99 : 1-4
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya
(yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan
beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan
manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini),”
pada hari itu bumi menceritakan beritanya.
(QS al Zalzalah / 99 : 1-4)
 
(QS Yaasin / 36:65)
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan
berkatalah kepada Kami tangan mereka dan
memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang
dahulu mereka usahakan.
(QS Yaasin / 36:65)

CARA HISAB ORANG MUKMIN DAN ORANG KAFIR
Allâh Ta'âla yang Maha Pengasih dan Maha Lembut tidak menghisab kaum Mukminin dengan munaqasyah, namun mencukupkan dengan al aradh. Dia hanya memaparkan dan menjelaskan semua amalan tersebut di hadapan mereka, dan Dia merahasiakannya, tidak ada orang lain yang melihatnya, lalu Allâh Ta'âla berseru : “Telah Aku rahasiakan hal itu di dunia, dan sekarang Aku ampuni semuanya”. Demikian dijelaskan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar, beliau berkata :
Hadits
Aku telah mendengar Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allâh mendekatkan seorang mukmin,
lalu meletakkan padanya penutupNya dan menutupinya
(dari pandangan orang lain), lalu (Allâh) berseru :
‘Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?’
Mukmin tersebut menjawab,’Ya, wahai Rabb-ku,’ hingga
bila selesai meyampaikan semua dosa-dosanya dan
mukmin tersebut melihat dirinya telah binasa, Allâh
berfirman,’Aku telah rahasiakan (menutupi) dosa itu
di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,’ lalu ia
diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan
munafik, maka Allâh berfirman : ‘Orang-orang inilah
yang telah berdusta terhadap Rabb mereka’. Ingatlah,
kutukan Allâh (ditimpakan) atas orang-orang yang
zhalim”.
(HR al Bukhari)
 
Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allâh Ta'âla, kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda :
Hadits
Lalu Allâh menemui hambaNya dan berkata :
“Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin,
menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta,
serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?”
Maka ia menjawab: “Benar”.
Allâh berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?”
Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allâh berfirman:
“Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”.
Lalu Allâh menemui hambaNya yang kedua dan berkata :
“Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan engkau sebagai pemimpin,
menikahkanmu dan menundukkan untukmu kuda dan onta,
serta memudahkanmu memimpin dan memiliki harta banyak?”
Maka ia menjawab: “Benar”. Allâh berkata lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?”
Maka ia menjawab: “Tidak,” maka Allâh berfirman :
“Aku biarkan engkau sebagaimana engkau telah melupakanKu”.
Kemudian (Allâh) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan seperti yang disampaikan di atas.
Lalu ia (orang itu) menjawab: “Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu,
kepada kitab suciMu dan rasul-rasul Mu.
Juga aku telah shalat, bershadaqah,” dan ia memuji dengan kebaikan semampunya.
Allâh menjawab: “Kalau begitu, sekarang (pembuktiannya),” kemudian dikatakan kepadanya:
“Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu,”
dan orang tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku.
Lalu mulutnya dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya: “Bicaralah!”
Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang amalannya,
dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya.
Itulah nasib orang munafik dan orang yang Allâh murkai.
(HR Muslim)
 
Demikianlah keadaan tiga jenis manusia. Yang pertama seorang mukmin, ia mendapatkan ampunan dan kemuliaan Allâh Ta'âla (sebagaimana yang dijelaskan dari hadits Ibnu Umar di atas). Yang kedua seorang yang kafir dan ketiga orang munafik (seperti yang dijelaskan dari hadits Abu Hurairah di atas). Orang kafir dan orang munafik mendapat laknat dan kemurkaan Allâh Ta'âla.
Oleh karena itu, bersiaplah menghadapinya dengan mempersiapkan bekal ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang cukup, memperbanyak mengingat hari perhitungan ini dan melihat kepada amalan yang telah kita perbuat. Mudah-mudahan Allâh Ta'âla memberikan taufiq kepada kita untuk memperbanyak bekal, yang nantinya dengan bekal tersebut kita menghadap sang pencipta dan mendapat keridhaanNya. Washallâhu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.
(Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X)

PENYIMPANGAN DALAM NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH TA'ALA

Penyimpangan
dalam Nama-nama
dan Sifat-sifat
Allah Ta'âla

(Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, MA)
 
Pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Ta'âla memiliki kedudukan yang agung dan tinggi dalam Islam, bahkan merupakan salah satu tonggak utama dan landasan iman kepada Allâh Ta'âla. Dan seorang hamba tidak mungkin dapat menunaikan ibadah yang sempurna kepada Allâh Ta'âla sampai dia benar-benar memahami pembahasan ini dengan baik.[1]
Oleh karena itu, penyimpangan dalam memahami masalah ini, akibatnya sangatlah fatal, karena kerusakan pada landasan iman ini akan mengakibatkan rusaknya semua bangunan agama seorang hamba yang berdiri di atasnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau:
“Barangsiapa yang ingin meninggikan bangunannya, hendaknya menguatkan dan mengokohkan pondasinya, dan bersungguh-sungguh memperhatikannya. Karena sesungguhnya ketinggian bangunan sesuai dengan kadar kekuatan dan kekokohan pondasinya. Maka amal perbuatan dan (tinggi-rendahnya) derajat (dalam Islam) adalah bangunan yang pondasinya adalah keimanan.
Semakin kuat pondasi tersebut, maka akan (mampu) menopang bangunan yang berdiri di atasnya. Kalaupun (terjadi) sedikit kerusakan pada bangunan itu, maka (akan) mudah diperbaiki. Namun jika pondasinya tidak kuat, maka bangunan tidak akan (bisa) berdiri tegak (di atasnya) dan tidak kokoh. Dan jika (terjadi) sedikit (saja) kerusakan pada pondasi tersebut, maka bangunan akan roboh atau (minimal) hampir roboh.
Orang yang mengenal (Allâh Ta'âla dan agama-Nya), perhatian (utama)nya (tertuju pada upaya) perbaikan dan penguatan pondasi (imannya). Sedangkan orang yang jahil (tidak paham agama) akan (berusaha) meninggikan bangunan, tanpa (memperhatikan perbaikan) pondasi, sehingga tidak lama kemudian bangunan tersebut akan roboh."[2]

PENGERTIAN AL-ILHÂD (PENYIMPANGAN) DALAM NAMA DAN SIFAT ALLÂH TA'ÂLA
Perbuatan penyimpangan dalam nama dan sifat Allâh Ta'âla dikenal dengan istilah al-ilhâd. Asal makna al-ilhad secara bahasa adalah menyimpang dan berpaling dari sesuatu.[3]
Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata,
“Asal (makna) al-ilhâd dalam bahasa Arab adalah berpaling dari tujuan, dan (berbuat) menyimpang, aniaya dan menyeleweng. Di antara (contoh penggunaannya) adalah (kata) al-lahd (liang lahad) dalam kuburan. (Dinamakan demikian) karena liang lahad tersebut menyimpang dari pertengahan (lubang) kuburan ke arah kiblat”.[4]
Sedangkan pengertian al-ilhâd (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Ta'âla adalah seperti yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullâh dalam ucapan beliau:
“Hakikat al-ilhâd dalam masalah ini adalah menyelewengkan nama-nama dan sifat-sifat Allâh dari (pemahaman) yang benar, atau memasukkan makna asing yang bukan artinya ke dalam makna nama-nama dan sifat-sifat tersebut, atau memalingkannya dari maknanya yang sebenarnya. Inilah hakikat al-ilhad (dalam masalah ini). Barangsiapa melakukan perbuatan ini, sungguh dia telah berdusta (besar) atas (nama) Allâh”[5]

ANCAMAN KERAS DAN DOSA YANG SANGAT BESAR KARENA MENYIMPANG DALAM MASALAH INI
Allâh Ta'âla berfirman:
Qs al-A’râf/7:180
Hanya milik Allâh-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah),
maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu,
dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)
dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya.
Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan”
(Qs al-A’râf/7:180)
Dalam ayat yang mulia ini, Allâh Ta'âla menyampaikan dua ancaman keras bagi orang-orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama- Nya yang maha indah dan sifat-sifat maha sempurna yang dikandung nama-nama tersebut[6]:
1.
Ancaman yang pertama, tertuang dalam bentuk perintah: “tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya”[7]. Perintah di sini berarti ancaman keras bagi orang-orang yang melakukan perbuatan buruk ini, sebagaimana makna firman-Nya:
Qs al-Hijr/15:3
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang
dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong),
maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)
(Qs al-Hijr/15:3)[8]
2.
Ancaman yang kedua: dalam firman-Nya: “Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” [9]. Maksudnya, mereka akan mendapat balasan azab dan siksaan yang pedih di dalam neraka karena penyimpangan mereka tersebut[10]. Dalam ayat lain, Allâh Ta'âla berfirman:
Qs al-A’râf/7:33
Katakanlah:”Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji,
baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa,
melampaui batas tanpa alasan yang benar,
(mengharamkan perbuatan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan argumentasi (dalil) untuk itu
dan (mengharamkan perbuatan) berkata (atas nama) Allah
dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui (tidak dilandasi dengan pengetahuan yang benar)”
(Qs al-A’râf/7:33)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:
“(Dalam ayat ini), Allâh Ta'âla menyebutkan urutan perbuatan-perbuatan yang diharamkan-Nya dalam empat tingkatan, mulai dari yang paling ringan (dibandingkan tiga tingkatan berikutnya), yaitu perbuatan keji (yang nampak maupun tersembunyi), kemudian (tingkatan) ke dua yang lebih besar larangannya dari yang pertama, yaitu perbuatan dosa dan kezhaliman (aniaya), kemudian (tingkatan) ke tiga yang lebih besar larangannya dari dua tingkatan sebelumnya, yaitu menyekutukan Allâh Ta'âla (dengan makhluk), kemudian (tingkatan) ke empat yang lebih besar larangannya dari semua tingkatan sebelumnya, yaitu berkata atas (nama) Allâh tanpa (landasan) ilmu. Dan ini meliputi (semua bentuk) ucapan atas (nama) Allâh Ta'âla tanpa (landasan) ilmu (yang benar) dalam (memahami) nama-nama, sifatsifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, juga dalam (memahami) agama dan syariat-Nya”[11].

BENTUK-BENTUK ILHÂD (PENYIMPANGAN)
DALAM MEMAHAMI NAMA DAN SIFAT ALLÂH TA'ÂLA

Bentuk ilhâd (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Ta'âla bermacam-macam. Sebagian hukumnya sampai pada tingkat kesyirikan dan ada yang sampai pada tingkat kekafiran, sesuai dengan petunjuk dalil-dalil syariat yang ada [12].
Macam-macam bentuk ilhâd tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Mengingkari sebagian dari nama-Nya atau mengingkari sifat-sifat dan hukum-hukum yang dikandung nama-nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu ta’thil (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Ta'âla) dari kelompok jahmiyah dan selain mereka.
Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd, karena kita wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allâh Ta'âla serta sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran- Nya yang dikandung nama-nama tersebut. Maka mengingkari hal tersebut termasuk penyimpangan dalam masalah ini.
2.
Menjadikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menyerupai nama-nama dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu tasybih (orang-orang yang menyerupakan Allâh Ta'âla dengan makhluk). Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd karena perbuatan menyerupakan Allâh Ta'âla dengan makhluk adalah kebatilan dan keburukan yang besar.
Allâh Ta'âla berfirman:
Qs asy-Syûrâ/42:11
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia,
dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Qs asy-Syûrâ/42:11)
Qs an-Nahl/16:74
Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah.
Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Qs an-Nahl/16:74)
3. Menetapkan bagi Allâh Ta'âla nama yang tidak ditetapkan-Nya bagi diri-Nya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nashrani yang menamakan Allâh Ta'âla dengan nama bapak. Juga seperti perbuatan kaum filosof (ahli filsafat) yang menamakan Allâh Ta'âla dengan al-‘illatul fâ’ilah (penyebab yang berbuat). Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad, karena penetapan nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil dari al-Qur’ân dan hadits yang shahih, tidak boleh ditambah dan dikurangi). Sebab, Allâhlah yang maha mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
4.
Menamai berhala dengan mengambil dari namanama Allâh Ta'âla , seperti perbuatan orang-orang musyrik yang mengambil nama untuk berhala mereka al-‘uzza dari nama Allâh al-‘Aziz (Yang Maha Mulia dan Perkasa), demikian juga nama al-lata dari nama-Nya “al-Ilah” (Dzat yang berhak diibadahi).
Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad karena nama-nama yang Allâh Ta'âla tetapkan bagi diri-Nya adalah khusus untuk diri-Nya semata-mata, sebagaimana firman-Nya:
Qs al-A’râf/7:180
Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah),
maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu
(Qs al-A’râf/7:180)
Sebagaimana hak untuk diibadahi dan disembah khusus milik Allâh Ta'âla semata, karena hanya Dia-lah semata yang menciptakan, memberi rezki, memberi kemanfaatan, mencegah kemudharatan, dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia-lah yang khusus memiliki nama-nama yang maha indah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain- Nya[13].
5.
Menyebut Allâh Ta'âla dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan, padahal Allâh Ta'âla adalah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat tersebut, sebagaimana ucapan sangat kotor dari orang-orang Yahudi yang mengatakan:
Qs Ali- ‘Imrân/3:181
Sesungguhnya Allâh miskin dan kami kaya
(Qs Ali- ‘Imrân/3:181)
Juga ucapan kotor mereka:
Qs al-Mâidah/5:64
Tangan Allâh terbelenggu
(Qs al-Mâidah/5:64)[14]

CONTOH-CONTOH PENYIMPANGAN DALAM NAMA DAN SIFAT ALLÂH TA'ÂLA
YANG TERSEBAR DI MASYARAKAT

Banyak contoh perbuatan ini yang terjadi di masyarakat, karena ketidakpahaman mereka terhadap urusan agama mereka, terutama masalah yang berhubungan dengan keyakinan dasar dan keimanan mereka, meskipun kebanyakan penyimpangan tersebut tidak separah dan tidak sampai pada tingkat kekafiran seperti bentuk-bentuk penyimpangan di atas. Meskipun demikian, tentu semua ini harus dij auhi karena sedikit banyak akan merusak keimanan dan mendangkalkan keyakinan seorang Muslim terhadap Allâh Ta'âla.
Beberapa contoh penyimpangan tersebut, di antaranya:
1.
Keyakinan sebagian orang yang tidak paham agama bahwa masing-masing dari Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) mempunyai khasiat khusus untuk mengobati penyakit tertentu. Perbuatan ini jelas merusak keyakinan, bahkan mengandung pelecehan terhadap nama-nama Allâh yang maha indah, disamping itu juga merupakan perbuatan bid’ah[15] yang sesat serta memalingkan manusia dari dzikir dan ruqyah[16] yang bersumber dari al-Qur’ân dan hadits Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam yang shahih.
2.
Menjadikan nama-nama Allâh sebagai jimat dengan menulisnya pada kertas atau manik-manik kemudian di gantung pada kendaraan atau rumah, dengan tujuan untuk penjagaan dan perlindungan dari pandangan mata jahat, kedengkian, gangguan setan dan lain sebagainya. Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh dia telah berbuat syirik”[17]
3.
Menulis nama-nama Allâh Ta'âla pada pigura yang indah dengan tulisan yang dihiasi (kaligrafi) untuk dijadikan sebagai hiasan dinding, sehingga orang yang melihatnya akan kagum dengan keindahan tulisan dan hiasannya, bukan pada keindahan nama-nama-Nya apalagi untuk meningkatkan keimanan.
Perbuatan ini jelas tidak disyariatkan, karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat. Juga karena nama-nama Allâh Ta'âla terlalu agung dan mulia untuk dijadikan sebagai hiasan dinding dan rumah.
4.
Menjadikan Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) sebagai bahan dzikir seharihari dengan membaca semua nama tersebut. Ada yang membacanya di waktu pagi dan sore, atau setelah shalat lima waktu, bahkan terkadang ada yang membacanya berulang-ulang sampai ratusan kali.
Adapun makna ‘berdoa dengan nama-nama Allâh’ seperti yang diperintahkan oleh Allâh Ta'âla dalam surat al-A’râf ayat 180, juga sabda Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yang barangsiapa menghafal (dan memahami kandungan)nya maka dia akan masuk surga”[18], adalah menghapal nama-nama tersebut, memahami kandungan maknanya, dan mengamalkannya serta berdoa kepada Allâh Ta'âla dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya.
5.
Termasuk kesalahan besar dalam masalah ini adalah memberi nama seseorang dengan nama yang berarti penghambaan kepada selain Allâh Ta'âla, seperi ‘abdun nabi (hambanya Nabi) atau ‘abdul ka’bah (hambanya ka’bah) , ‘abdul Husain (banyak terdapat di kalangan Syiah) dan lain-lainnya.
Perbuatan ini diharamkan dalam Islam berdasarkan konsensus para ulama Ahlus sunnah wal jamaah, karena manghambakan diri kepada selain Allâh Ta'âla adalah perbuatan syirik.
6.
Juga termasuk kesalahan dalam masalah ini adalah membuang kertas, buku ataupun majalah yang bertulisakan nama-nama Allâh di sembarang tempat ataupun di tempat sampah yang bercampur dengan kotoran dan barang-barang buangan.
Perbuatan ini diharamkan dalam Islam, karena menunjukkan sikap tidak memuliakan dan mengagungkan nama-nama-Nya. Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam pernah tidak menjawab salam seorang Sahabat ketika beliau sedang berada di WC[19], dalam rangka memuliakan nama Allâh Ta'âla dengan tidak menyebutkannya sewaktu berada di tempat yang kotor dan najis[20].

CARA UNTUK MENYELAMATKAN DIRI DARI PENYIMPANGAN DAN DOSA BESAR INI

Satu-satunya cara untuk selamat dari penyimpangan besar ini adalah dengan berdoa memohon taufik kepada Allâh Ta'âla agar kita terhindar dari semua bentuk penyimpangan dan kesesatan dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Kemudian dengan berusaha mengikuti metode yang benar dalam memahami dan mengamalkan agama Islam, yaitu manhaj ulama Salaf, Ahlus sunnah wal jama’ah, yang telah direkomendasikan kebenaran pemahaman dan pengamalam Islam mereka oleh Allâh Ta'âla dalam firman-Nya yang artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam)
dari (kalangan) orang-orang Muhajirin dan Anshar
serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya,
dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga
yang mengalir sungai-sungai di dalamnya;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang besar
(Qs. at-Taubah/9 :100)
Oleh karena itulah manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah digambarkan oleh para ulama sebagai metode berislam yang a’lam wa ahkam wa aslam[21] (yang paling sesuai dengan ilmu yang bersumber dari al- Qur’ân dan sunnah Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam, yang paling bijaksana dan sesuai dengan hikmah yang agung, serta paling selamat dari kemungkinan menyimpang dan tersesat dari kebenaran)
Semoga Allâh Ta'âla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu berpegang teguh dengan metode Ahlus sunnah wal jama’ah dalam berislam agar kita terhindar dari segala bentuk kesesatan dan penyimpangan dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan hamba-Nya. Wallâhu a’lam.
 
[1] Al-Qawâ‘idul Mutslâ hlm. 17
[2] Al Fawâ-id hlm. 175
[3] An-Nihâyah fi Gharîbil Hadîtsi wal Atsar 4/450
[4] Tafsir Ibnu Katsîr 2/357
[5] Madârijus Sâlikîn 1/30
[6] Adhwâul Bayân 2/146
[7] Ibid
[8] Tafsir Ibnu Jarîr ath-Thabari 13/285
[9] Adhwâul Bayân 2/146
[10] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 309
[11] I’lâmul Muwaqqi’în 1/38
[12] al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 50
[13] Keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 49-50 dengan ringkas dan penyesuaian. Lihat juga keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Badâ-i’ul Fawâ-id hlm.179-180
[14] Lihat Badâi’ul Fawâid hlm.179
[15] Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allâh Ta'âla yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam .
[16] Bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit untuk menyembuhkan penyakitnya dengan izin Allâh Ta'âla .
[17] HR. Ahmad (4/156) dan al-Hâkim no. 7513. Lihat Ash-Shahîhah no. 492
[18] HR. al-Bukhâri no. 2585 dan Muslim no. 2677
[19] Hadits hasan shahih riwayat Abu Dâwud no. 16 dan at-Tirmidzi no.90
[20] Keterangan Syaikh ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr dalam Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 66-69 dengan ringkas dan penyesuaian
[21] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh dalam Dar-u Ta’ârudhil ‘Aqli wan Naqli 3/95 dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ash-Shawâ’iqul Mursalah 3/1134

(Majalah-As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV)

Ini loh acara TV Khasanah di Trans 7 yang diperdebatkan..


HUKUM ZIARAH KUBUR

 

TAUHID



PRO KONTRA TAWASSUL


KUPAS TUNTAS SYIRIK BESAR

Empat Video diatas merupakan video yang membuat beberapa kalangan yang tidak setuju dengan dakwah tauhid meradang, mereka mengajukan gugatan kepada KPI supaya acara khasanah yang mendidik ini dihentikan. Tapi kabar terbaru, alhamdulillah, setelah mediasi dengan KPI dan Majelis Ulama Indonesia, acara khasanah tetap bisa tayang seperti biasa.




Monday, April 15, 2013

DIALOG SYAIKH AL-ARIFI DENGAN KRISTIANI


Mari Dilihat Video dialog antara syaikh al-arifi dengan seorang kristiani. Bagus! Yang Nasrani wajib liat nih..

DIALOG SYAIKH AL-ARIFI DENGAN SANTRI INDONESIA



Video di atas adalah video tentang percakapan antara Shaikh Al-Arifi dengan Santri Indonesia yang sedang membaca Al-Quran di kuburan. Silahkan disimak.

SALAM KEPADA NABI




SOAL:

Sesuai keterangan Majalah As-Sunnah hlm.23 sejak Rasulullah pulang ke Rahmatullah beliau berada di alam Barzah dan ruhnya di surga. Tetapi mengapa waktu umatnya berziarah ke maqam harus mengucapkan salam pada beliau?
Salam Yon Rijono Jakarta. +628138662xxxx

JAWAB:

Di dalam majalah As-Sunnah edisi 12/thXll/1430H/2009M, hlm. 23, kolom 1 tertulis "Padahal Rasulullah telah berada di alam Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah di surga, sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan  hadir di antara manusia".

Jika anda bertanya mengapa kita mengucapkan salam kepada beliau ketika menziarahi kubur beliau, padahal beliau berada di surga? Maka jawabnya adalah karena hal itu dituntunkan oleh syari'at Islam. Sesungguhnya bukan hanya ketika menziarahi kubur beliau saja kita dianjurkan mengucapkan salam kepada beliau, namun dianjurkan pada setiap tempat dan waktu, demikian juga pada waktu-waktu tertentu yang ditunjukkan oleh dalil. Allah  berfirman:

¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áムn?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# 4 $pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmøn=tã (#qßJÏk=yur $¸JŠÎ=ó¡n@ ÇÎÏÈ  

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

Jika  ditanyakan, apakah itu akan sampai kepada Nabi  ? Maka jawabnya :Ya, karena Nabi telah memberitakan  hal itu.  Beliau bersabda:

Janganlah kamu menjadikan rumah-rumah kamu sebagai kubur, dan janganlah kamu menjadikan kuburku sebagai 'ied (tempat yang didatangi berulang-ulang). Dan ucapkanlah shalawat atasku sesungguhnya shalawat kamu itu akan sampai kepadaku di mana saja  kamu  berada.(HR.  Abu Dawud, no. 2042; Ahmad 21367;dishahlhkan oleh al-Albani)

Jika ditanyakan, bagaimana hal itu akan sampai kepada Nabi ? Jawabannya adalah jika telah datang sebuah nash yang shahih tentang urusan ghaib, maka kewajiban kita adalah menerimanya walaupun kita tidak tahu hakekatnya. Kemudian dalam masalah ini juga telah dijelaskan oleh Nabi  dengan sabda beliau:

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang mengembara di bumi, mereka menyampaikan salam dari umatku kepadaku. (HR.an-Nasai no.1282;Ahmad1I441; dishahihkan oleh al-Albani).

SUMBER: MAJALAH AS-SUNNAH EDISI 03/THN.XIII/JUMADIL  TSANI 1430H/JUNI 2009M